HipnoSports Untuk Peak Performance dalam Olah Raga
Salah satu aplikasi hipnotis yang sering saya ajarkan pada atlit adalah bagaimana caranya mengontrol “Arousal Level” atau “Level Stress” untuk tetap berada di Zona Optimal mereka (Peak Performance).
Menurut “Catastrophe Model” dari Fazey & Hardy, performance seorang atlit itu ditentukan oleh level stressnya, artinya jika dalam sebuah pertandingan, jika level stress rendah, maka performance seorang atlit itu belum maksimal, seorang petinju akan kehilangan powernya jika arousal levelnya terlalu rendah.
Dilain pihak, jika arousal level seorang atlit terlalu tinggi, maka juga akan mengurangi performancenya, sang atlit menjadi emosi, susah konsentrasi dan bahkan menjadi panik.
Tergantung dengan pressurenya, kurva performance itu bisa berbeda beda, pada pressure rendah sampai sedang (biasanya dalam latihan), kurvanya seperti huruf U yang terbalik (gbr 1.),
Tapi pada pressure tinggi, terutama ketika sedang bertanding, maka kurvanya berubah menjadi seperti ombak, yaitu dengan semakin tingginya stress atau arousal level, maka akan terjadi performance drop yang katastrophal, yang kalau menggunakan relaksasi biasa tidak akan kembali ke puncak performance nya (A), tapi hanya mencapai titik (B) saja.
Bagaimana caranya mengontrol arousal level sehingga para atlit bisa tetap berada di zona optimalnya? Untuk itu saya mengembangkan latihan mental yang dikombinasikan dengan Self Hypnosis S.H.I.N.E saya sebut dengan Mental Engineering, untuk layanan HipnosSports® Coaching, anda bisa hubungi HipnoSports Indonesia 0857 80 777 766.
Salam turbo,
Awie Suwandi
HypnoSports – Aplikasi Hipnotis dalam Olah Raga
Dalam pertandingan atau perlombaan olah raga, selain faktor skills dan stamina, faktor mental juga sangat mempengaruhi keberhasilan seorang atlit. Di dalam bukunya yang berjudul HypnoSport, Les Cunningham menulis bahwa Hipnotis sudah banyak digunakan dalam olah raga, bahkan dalam perlombaan di Olimpiade sejak tahun 1956 di Melbourne, tim atlit Russia selalu ditemani oleh tim hipnoterapis, dan ini merupakan salah satu faktor keberhasilan tim atlit Russia dalam mendapatkan banyak medali emas.
Di luar negeri, bantuan seorang juru hipnotis atau mental coach dalam bidang olah raga sudah menjadi sebuah kebutuhan, baik bagi atlit profesional maupun olah ragawan amatir, beberapa di antaranya:
- Pegolf & Juara Dunia Tiger Wood melengkapi latihannya dengan dihipnotis oleh mental coach Jay Brunza, tujuannya adalah supaya bisa mengabaikan semua gangguan dan bisa tetap fokus pada permainan.
- Petenis terkenal Jimmy Connors mengkombinasikan hipnotis dalam latihannya dan memenangkan U.S. Open Championship.
- Petinju Ken Norton menggunakan hipnotis untuk mempersiapkan dirinya dan menang bertanding melawan Mohammad Ali dan masih banyak lagi contoh yang menunjukkan peningkatan prestasi dalam olah raga dengan hipnotis.
Di Indonesia, saya sering memberikan mental coaching kepada atlit professional seperti atlit bulu tangkis, atlit bilyar, atlit bola basket, atlit sepak bola dan lain lain untuk mempertahankan mental, meningkatkan konsentrasi, stamina, kekuatan dan kecepatan refleks dengan hasil yang memuaskan.
Untuk itu saya mengembangkan sebuah metoda yang disebut dengan Mental Engineering yang dikembangkan dari disiplin ilmu Sports Psychology, Self Hypnosis, Hypnotherapy, NLP & Coaching yang praktis dan mudah dipraktekkan.
Untuk informasi Mental Coaching dengan Mental Engineering bisa hubungi HipnoSports Indonesia di 0857 80 777 766.
salam turbo,
Bagaimana HipnoSports bisa membantu seorang atlit?
Dengan HipnoSports, seorang atlit bisa:
- Memotivasi dan menerapkan disiplin diri untuk berlatih.
- Memunculkan sikap mental seorang pemenang dan mempertahankan puncak prestasi seperti meningkatkan konsentrasi, mengatasi rasa gugup, menghilangkan mental blocks, mampu mengendalikan emosi dan me-ningkatkan rasa percaya diri ketika sedang bertanding.
- Meningkatkan stamina dalam pertandingan dan mengurangi rasa sakit.
Kalau rasa sakit bisa dikurangi dan bahkan bisa dihilangkan, tentu saja rasa pegal dan lelah bisa dikurangi dan dihilangkan dengan sugesti sehingga seorang atlit bisa meningkatkan stamina dalam pertandingan. Saya pernah membaca tentang seorang atlit pesenam putri Russia yang mengalami patah tulang kaki tapi masih berhasil menyelesaikan pertandingan dan mendapat medali emas.
- Untuk meningkatkan kecepatan gerakan dan refleks.
Dengan memunculkan fenomena Distorsi Waktu (Time Expansion), seorang atlit bisa meningkatkan kecepatannya. Fenomena ini bisa diamati pada atlit, terutama atlit bela diri yang tanpa disadari memunculkan time expansion dari latihannya selama bertahun-tahun, dan fenomena ini bisa dimunculkan dalam waktu yang relatif singkat dengan hipnotis.
- Mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah teknik dan memungkinkan latihan intensif tanpa cedera otot.
Dalam buku-buku Psycho Cybernetics, Maxwell Malz menceritakan per-cobaan yang dilakukan pada mahasiswa dalam olah raga bola basket.
- Para mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok A, B, dan C, dan di hari pertama semua mahasiswa diminta untuk melakukan tembakan ke ring dan hasilnya dicatat.
- Sesudah itu, kelompok A dibiarkan tidak melakukan latihan apapun sesudahnya, setelah 3 minggu mereka diminta lagi untuk melakukan tembakan ke ring, hasilnya, tidak terjadi peningkatan prestasi yang signifikan.
- Kelompok B diminta untuk latihan menembak selama 20 menit sehari, setelah 3 minggu mereka diminta untuk menembak lagi dan menunjukkan peningkatan prestasi sebesar 24%.
- Kelompol C hanya diminta untuk rileks, tutup mata dan berimajinasi sedang melakukan latihan menembak dalam pikirannya, yaitu berimajinasi seolah-olah menembak dan melihat bolanya masuk ke ring, sesudah 3 minggu ketika mereka diminta latihan menembak lagi, terjadi peningkatan prestasi sebesar 23%.
- Berdasarkan hasil eksperimen ini para atlit selalu diajarkan untuk berimajinasi dan melakukan visualisasi sebelum bertanding, dan efek ini akan semakin efektif lagi jika dikombinasikan dengan hipnotis dan latihan dilakukan dalam kondisi trance.
- Manfaat lain dengan menggunakan hipnotis dalam latihan adalah seorang atlit bisa berlatih dan mengoptimalkan sebuah teknik secara berulang-ulang dalam rentang waktu yang lama dan secara intensif tanpa resiko mengalami cedera otot yang biasanya terjadi jika seorang atlit terlalu memaksakan latihan yang sudah melampaui kemampuan fisiknya atau over training.
- Untuk meningkatkan stamina dan kekuatan otot.
Seorang psikolog bernama J. A. Hadfield pernah melakukan percobaan dimana para sukarelawan dites kekuatan otot menggenggam dengan sebuah alat pengukur kekuatan yang disebut dengan dynamometer.
Percobaan tersebut dilakukan dalam 3 tahap:
-
- Tahap pertama para sukarelawan diminta untuk menggenggam alat tersebut sekuat mungkin dan hasil pengukuran dicatat.
- Tahap kedua adalah para sukarelawan dihipnotis, kemudian diberikan sugesti bahwa tangan mereka menjadi lemah dan tidak bertenaga, hasil pengukuran menunjukkan penurunan kekuatan menggenggam sebesar 71,3%.
- Tahap ketiga para sukarelawan kembali dihipnotis dan diberi sugesti tangannya bertambah kuat, hasil pengukuran menunjukkan pe-ningkatan kekuatan otot menggenggam sebesar 40,6%.
- Dan hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kekuatan otot bisa di-tingkatkan dengan sugesti dan efek ini bisa diaplikasikan dalam olah raga untuk meningkatkan kekuatan dan stamina atlit.
salam turbo,
Awie Suwandi



